HomeTazkiyatun NufusRenungan tentang Kematian
Renungan tentang Kematian - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Renungan tentang Kematian

Setiap orang pastinya Islam akan sepakat jika tidak akan ada manusia yang bisa hidup kekal di dunia ini. Sejak zamannya Nabi Adam hingga sekarang, entah sudah berapa banyak manusia yang meninggal dunia menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang berakal tentunya akan berpikir bahwa hidupnya di dunia ini suatu saat akan berakhir. Dan ketika ajalnya datang, maka siapapun tidak akan bisa mencegahnya. Segala yang dimiliknya pun mau tidak mau harus ditinggalkan, baik itu harta, jabatan, kedudukan, ataupun keluarga yang disayanginya.

Semua Makhluk Bernyawa Pasti Akan Mati

Kematian merupakan suatu perkara yang tidak mungkin bisa dipungkiri oleh manusia, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Sang Pencipta seluruh makhluk telah mengabarkan kepada kita dalam firmanNya:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barangsiapa yang dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari neraka dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).” (QS. Ali Imran [3]: 185)

Setiap makhluk yang bernyawa bisa dipastikan akan mati, dan jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan waktunya, maka kita tidak mungkin bisa mengundurkan ataupun mempercepatnya meski hanya sesaat, sedetik saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

Dan bagi tiap-tiap jiwa sudah ditetapkan waktu (kematiannya), jika telah tiba waktu kematian, tidak akan bisa mereka mengundurkannya ataupun mempercepat, meskipun hanya sesaat.” (QS. al-A’raf [7]: 34)

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan ajal seorang manusia, maka ia tidak akan bisa lari dan selamat dari ajalnya tersebut. Walaupun ia bersembunyi di tempat yang sangat aman atau bahkan berlindung di balik benteng yang sangat kokoh, maka kematian akan tetap saja mendapatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

Dan di manapun kalian berada, niscaya kematian itu akan mendatangi kalian, meskipun kalian berlindung di balik benteng yang sangat kokoh.” (QS. an-Nisa [4]: 78)

Perbanyaklah Mengingat Kematian

Merupakan fenomena yang menyedihkan ketika banyak diantara kaum muslimin yang lalai dari mengingat kematian, mereka terlalu terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang semu, dan mereka lupa dengan kenikmatan-kenikmatan akhirat yang kekal. Padahal jika seorang telah meyakini bahwa suatu saat ia akan mati, maka sudah selayaknya ia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kematian, yaitu dengan memperbanyak amalan-amalan shalih yang nantinya bisa ia gunakan sebagai bekal di akhirat.

Salah satu hal yang bisa menjadikan manusia giat dalam beribadah dan beramal shalih adalah dengan banyak mengingat kematian. Hal ini jugalah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kepada para sahabatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan dunia.” Yaitu “Kematian”.” (HR. at-Tirmidzi no. 2307)

Faedah Mengingat Kematian

Semua orang tentunya sepakat bahwasanya manusia adalah makhluk yang sering Menahan melakukan dosa dan kesalahan. Dan tidaklah ada manusia yang terlepas dari dosa dan kesalahan, kecuali para Nabi dan Rasul. Namun, seorang manusia yang banyak mengingat kematian, dirinya akan sesegera mungkin untuk bertaubat dari kesalahannya tersebut. Karena ia selalu sadar bahwa kematian senantiasa mengintainya. Dia akan sadar pula bahwa kapanpun dan di manapun ajal bisa saja menjemputnya tanpa sepengetahuan dirinya.

Selain itu, orang yang banyak mengingat kematian juga akan lebih bersemangat dalam beribadah dan bersemangat untuk mengumpulkan bekal untuk akhiratnya. Ia juga akan lebih qana’ah terhadap apa yang diberikan oleh Allah kepadanya yang berupa perbendaharaan dunia.

Ad-Daqaaq rahimahullahu mengatakan: “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, maka akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, rasa qana’ah dalam hati (merasa cukup dan menerima setiap pemberian Allah) serta semangat dalam beribadah kepada Allah. Dan barangsiapa lalai dari mengingat kematian, maka Allah akan menghukumnya dengan tiga perkara: (sifat) menunda-nunda taubat, tidak merasa cukup/ridha (terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah) dan malas dalam beribadah.” [al-Qiyamah ash-Shughra, Syaikh DR Umar Sulaiman al-Asyqar, hal. 82]

Perbanyaklah Amal Kebajikan

Setiap orang yang beriman tentunya akan meyakini bahwa setelah dirinya meninggalkan dunia ini, dia akan hidup kekal di akhirat nanti. Dan tentu saja dia akan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi kehidupan di akhirat nanti, karena tidak akan ada kehidupan setelahnya. Namun, di zaman sekarang ini banyak sekali orang yang tidak mau memahami hal ini, mereka seakan-akan lupa bahwa mereka akan mati. Mereka pun sibuk dan rakus dengan urusan dunia, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, berbangga-bangga dengan anak, istri, pangkat, dan kedudukan.

Orang-orang yang silau dengan dunia biasanya akan lalai dari beribadah kepada Allah, dan akan cenderung meninggalkan amal kebajikan. Padahal harta, keluarga dan hal lainnya yang selama ini ia kumpulkan, tidaklah akan berguna baginya kelak di hari kiamat. Semua itu akan terputus dan hilang begitu saja ketika ajal menjemputnya. Dan yang akan tetap mengikutinya hanyalah amal kebajikannya selama di dunia. Maka dari itu, marilah kita perbanyak amal kebajikan dan senantiasa beribadah kepada Allah Ta’ala dalam rangka memperbanyak bekal untuk kehidupan di akhirat nanti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Setiap orang yang mati akan diikuti oleh tiga hal, namun dua dari tiga hal tersebut akan pulang (setelah ia dikuburkan), dan hanya ada satu yang akan tetap menemaninya. Keluarga, harta dan amalnya akan mengikutinya. Namun keluarga dan hartanya akan pulang (meninggalkannya di kuburan), dan hanya amalannya lah yang akan menemaninya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2379, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Jadilah Orang yang Cerdas

Tidak lupa penulis berpesan kepada diri penulis pribadi dan kepada para pembaca sekalian, jadilah sebagai orang yang cerdas. Yaitu orang yang cerdas dalam memandang hakikat kehidupan di dunia ini.
Dalam sebuah Hadits dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki Anshar yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ أَفْضَلُ؟ قَلَ: أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، فَأَيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ أَكْيَسُ؟ قَلَ: أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتعْدَادً، أُوْلَئِكَ الْأَكْيَسُ

“Wahai Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia berkata lagi, “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya untuk (kehidupan) setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Di dalam Hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa orang yang paling cerdas di antara kaum mukminin ialah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk (kehidupan) setelah mati. Jadi, siapa saja yang lalai dari mengingat kematian dan tidak mempersiapkan dengan baik bekal untuk hari akhirat nanti, maka otomatis dia termasuk orang-orang yang bodoh. Hal itu karena ia tidak bisa melihat tentang hakikat kehidupan di dunia yang fana ini dan cenderung lupa dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Hidup di Dunia Laksana Seorang Pengembara

Seorang yang banyak mengingat kematian, akan senantiasa memanfaatkan waktu yang tersisa dari hidupnya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Dia tidak akan menyia-nyiakan umur yang Allah Ta’ala berikan kepadanya dengan hanya bersenang-senang menikmati kehidupan dunia yang menipu. Karena dia tahu bahwa kehidupannya di dunia ini akan berakhir pada kematian. Maka dari itu dia akan senantiasa giat dan semangat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala sebagai bekal nantinya menuju akhirat.

Tidak sepantasnya seorang muslim memiliki sifat suka menunda-nunda dalam melakukan amal shalih hanya karena kesibukan duniawi. Memang selama hidup di dunia manusia tidak mungkin lepas dari kesibukan. Akan tetapi, seorang yang berakal tentunya akan mengutamakan untuk menyibukan diri terhadap urusan akhirat yang pasti datang dan ia akan kekal di dalamnya, daripada urusan dunia yang pasti akan ia tinggalkan. Karena sejatinya seorang yang hidup di dunia adalah ibarat seorang pengembara yang sedang menempuh perjalanan yang jauh lalu ia berteduh di bawah pohon untuk beristirahat sejenak di bawahnya dan kemudian ia pergi meninggalkannya.

Hal ini seperti yang telah digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu pengembara tersebut pergi meninggalkannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2377)

Di akhir pembahasan ini penulis akan membawakan perkataan Hamid al-Qaishariy rahimahullahu tentang keutamaan mengingat kematian, beliau berkata:
Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya! Maka terhadap apa kamu bergembira?! Kemungkinan apakah yang kamu nantikan?! Kematian, itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Maka wahai saudara-saudaraku, berjalanlah menghadap Rabbmu dengan perjalanan yang bagus.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, Syaikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi, hal. 384)

Semoga kita dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai hamba-hambaNya yang senantiasa banyak mengingat kematian dan banyak melakukan amal shalih sebagai bekal kita menuju akhirat, dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

Surabaya, 22 Rabi’uts Tsani 1434 / 5 Maret 2013
Penulis: Mukhadasin

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Celakalah bagi Mereka yang Lebih Mengutamakan Dunia daripada Akhiratnya - MuadzDotCom - Sahabat Belajar Islam

Celakalah bagi Mereka yang Lebih Mengutamakan Dunia daripada Akhiratnya

Sifat cinta terhadap dunia dan terlalu mengutamakan urusan dunia merupakan sumber dari kehancuran agama seseorang. ...